Perbedaan Pertanian di Jawa dan juga di luar Jawa

Perbedaan Pertanian di Jawa dan juga di luar Jawa

Perbedaan Pertanian di Jawa dan juga di luar Jawa

Indonesia adalah bangsa yang besar. Demikian juga dengan peternakan. Kopi serta pertanian karet di Aceh memiliki berbagai pola dan sistem dengan pertanian rendah di Jawa Tengah atau pertanian vegan di Malang.

Oleh karena itu praktis sulit bagi kami untuk menyamaratakan tentang sistem dan juga pola di Indonesia.

Pola kehidupan pertanian di Jawa beragam dari luar Jawa terutama sebagai akibat adanya perbedaan perbandingan antara berbagai petani dan lahan yang tersedia untuk kehidupan mereka.

Pulau Jawa pada tahun 1974 adalah rumah dari 64% dari seluruh penduduk Indonesia, sedangkan hanya 7% dari lokasi lengkap Indonesia. Dengan demikian Jawa adalah yang paling padat dihuni

Distribusi populasi petani yang tidak merata di antara Jawa dan juga di luar Jawa membawa pola kehidupan pertanian yang sangat beragam.

Jawa memiliki sistem tenaga kerja yang padat karya (tenaga kerja intensif), sementara di luar Jawa jauh lebih sedikit tenaga kerja, memanfaatkan sebagian besar lahan pertaniannya untuk menghasilkan tanaman pangan seperti beras, jagung dan juga singkong.

Perbedaan Pertanian di Jawa dan juga di luar Jawa

Sementara di luar Jawa sebagian besar dialokasikan untuk perdagangan hasil bumi seperti karet, kelapa, kopi, lada dan lain-lain. Pulau Jawa mengembangkan pertaniannya lebih awal dari pulau-pulau di luar Jawa.

Sekaligus ketika pendanaan internasional mulai ditemukan di Indonesia dalam skala besar (mulai tahun 1870), maka tanaman pangan dan tanaman profesi mulai dikembangkan di Jawa.

Karena tanah di Jawa jauh lebih terbatas sementara lahan pertanian di luar Jawa masih lebih luas maka pemilik sumber daya setelah itu mulai membuka perkebunan lebih besar di luar Jawa, khususnya di Sumatra.

Para buruh yang diperlukan untuk kebun-kebun anggur di Sumatra sebagian besar didatangkan dari Jawa khusus untuk perkebunan tembakau di Sumatera Timur yang sangat padat karya.

Pulau Sumatra kemudian sangat penting dalam pembuatan tanaman ekspor seperti karet, kelapa sawit, tembakau, kopi dan lada, serta Jawa terutama menciptakan tanaman pangan.

Tanaman yang dapat diandalkan ekstra yang dibudidayakan di Jawa jauh lebih padat karya, yaitu tebu, tembakau, dan teh.

Ekspor Hasil Pertanian Indonesia

Sekaligus ketika harga ekspor pertanian sangat bagus seperti karet sepanjang Perang Dunia II dan Pertempuran Korea (1950-1952), Sumatera sebagai produsen karet primer mengalami masa keemasan.

Tanaman pangan di sana jauh kurang menarik. Beras yang dibutuhkan diimpor dari Jawa atau luar negeri. Tetapi skenario ini berubah setelah harga karet menurun di pasar dunia, terutama sejak pengembangan karet sintetis yang bersaing.

Untuk meningkatkan tingkat beras pasar dunia serta perluasan impor beras, terutama oleh pulau Jawa, Sumatra dan juga berbagai lokasi lainnya mulai meningkatkan penanaman makanan. Antara 1963-1969, produksi beras di Sumatra saja meningkat 50,4% (7,1% setiap tahun), sedangkan di Jawa hanya 18,8% (2,9% setiap tahun).

Pertumbuhan ini menunjukkan peningkatan nilai posisi Sumatera dan juga pulau-pulau luar Jawa pada umumnya di pertanian Indonesia serta masalah yang semakin parah di Jawa. Penduduk di Jawa meningkat dengan cepat ketika manufaktur makanan meluas secara bertahap.

Hasil Bumi yang Berharga Bagi Negara

Produksi pertanian di Jawa semakin terkonsentrasi pada produksi beras, makanan pokok dan juga penempatan pabrik perdagangan menjadi lebih rendah. Memperdagangkan tanaman seperti tebu, rosella dan juga penggunaan rokok dari tanah yang disewa dari individu sangat sulit untuk menemukan tanah.

Hanya dengan bantuan regulatif, kuota darat dan program kepemilikan tanaman ini dipastikan membutuhkan tanah mereka. Ini baru didapat dengan biaya sewa tanah yang lebih tinggi.

Tidak dapat diulang lagi bahwa lebih banyak tugas pertanian harus dipandu dari Jawa di mana lahan pertanian masih umum ditawarkan.

Kemajuan pertanian di luar Jawa akan terkait erat dengan tugas-tugas kemajuan regional dan juga variasi tenaga kerja dari kelebihan penduduk di Jawa. Ini adalah masalah utama yang dihadapi dalam program transmigrasi