Cianjur Mengharapkan Ekspor Produk Pertanian ke Uzbekistan

Cianjur Mengharapkan Ekspor Produk Pertanian ke Uzbekistan

Cianjur Mengharapkan Ekspor Produk Pertanian ke Uzbekistan

Kabupaten Cianjur memiliki kemungkinan untuk mengekspor barang-barang pertanian ke Uzbekistan karena dianggap memiliki hasil pertanian prospektif. Berbagai komoditas, diperkirakan difokuskan untuk diberikan kepada Uzbekistan masih kecuali hasil pertanian.

Kepala Dinas Pertanian dan juga Tanaman Hortikultura Cianjur Mamad Nano mengklaim cabai serta aset lada mungkin bisa dipasok ke Uzbekistan. Faktornya, meski memiliki 40 varietas tanaman pertanian, Uzbekistan masih mengalami kekurangan lada dan juga paprika.

“Ada kemungkinan bahwa wacana ekspor dapat terjadi. Tapi jelas, Uzbekistan bermaksud untuk memeriksa awalnya untuk bertani di dua jenis tanaman sebelumnya,” klaim Mamad

Cianjur Mengharapkan Ekspor Produk Pertanian ke Uzbekistan

Berdasarkan informasi, Peraturan Cianjur sejauh ini sangat memungkinkan untuk kemajuan tanaman hortkultura. Kemungkinan daerah yang dimiliki Cianjur adalah 13.130 hektar dengan hasil cabai sebagai komoditas utama. Oleh karena itu, Cianjur akhirnya menjadi daerah yang biasanya disarankan sebagai lokasi untuk menemukan budidaya cabai.

Selain itu, mengacu pada standar nasional, Cianjur diklasifikasikan sebagai penghalang pendanaan dalam pertanian. Hasil pertanian setiap tahun, berada di atas berbagai bidang lainnya. Akibatnya, Uzbekistan akhirnya tertarik untuk meneliti sejumlah pola pertanian Indonesia yang dianggap memiliki banyak kemiripan, terutama di bidang lingkungan.

“Produksi kami terutama di pertanian cabe, bisa mencapai 40.000 ton setiap tahun. Kami menjadi terminal pertanian, yang menyediakan banyak tempat, terutama Jakarta dan Bandung,” katanya.

Hal ini dianggap sebagai modal yang baik untuk Cianjur bekerja sama dengan Uzbekistan. Apalagi Uzbekistan juga dikhususkan untuk bekerja sama di bidang teknologi modern pertanian.

Kekuatan Ekspor Indonesia

Melalui perjalanan ke Uzbekistan, Wakil Bupati Herman Suherman juga memberikan sejumlah peluang, kesulitan, serta kendala pertanian di Cianjur. Ia menyatakan, saat ini Peraturan Cianjur masih menghadapi fluktuasi harga yang tidak logis.

Selain itu, jadwal tanam tidak langgeng serta tidak profesional, berpasangan dengan serangga cepat di musim tertentu. Disimpulkan bahwa budidaya hortikultura belum ideal dalam menyingkirkan biaya yang semakin meningkat dan juga meningkatnya jadwal penanaman.

“Dengan demikian, kita masih harus belajar banyak dan juga perlu bertukar informasi dengan Uzbekistan yang diidentifikasi sebagai yang maju dalam pemantauan pertanian,” katanya.

Di Sisi Lain, Wakil Kepala Negara Uzbekistan Zoir Mirzaev mengatakan, meskipun saat ini memiliki 40 komoditas yang hasil produksinya diekspor ke 80 negara di planet ini, Uzbekistan masih belum puas dengan beberapa tanaman nasional.

“Terutama cabai dan cabai yang hasil kami tidak layak. Oleh karena itu, kami datang untuk mendapatkan atau memperdagangkan info untuk mengatasi masalah pertanian,” katanya Cianjur Mengharapkan Ekspor Produk Pertanian ke Uzbekistan.

Teknologi modern pertanian Uzbekistan.

Kedatangan Zoir dengan sejumlah guv, walikota, dan juga rektor universitas pertanian, pasokan, berbagai inovasi pertanian Uzbek yang mungkin berlaku di Cianjur. Zoir menambahkan bahwa kedua pihak dapat saling bertukar informasi terkait pilihan pertanian, penelitian dan pengembangan (R & D), inovasi, dan juga pertanian dalam budidaya cabai.

“Terkait dengan usahatani cabe, Indonesia bisa bekerja sama dengan kawasan Bukhara yang memiliki berbagai macam pakaian. Selain itu, kami juga menawarkan partisipasi terkait dengan kebutuhan pertanian lainnya, seperti pencegahan serangga pertanian,” katanya.

Dia sangat berharap bahwa menelusuri melalui bisa menjadi metode untuk menemukan hubungan yang dekat dengan Indonesia di bidang pertanian. Tidak hanya itu, Zoir mengaku, Uzbekistan selalu terbuka untuk kerja tim di sektor lain yang bermanfaat untuk kedua acara tersebut.